Kamis, 19 Agustus 2010

PASRAMAN MENURUT KONSEP HINDU

MENURUT konsep Hindu, proses belajar itu sepanjang hidup. Dari masa brahmacari, grhasta, vanaprastha sampai sanyasin asrama.
Menurut konsep kitab Agastia Parwa, dasar membangun pendidikan sepanjang masa ada dua yaitu menjadikan belajar sebagai tradisi atau kebiasaan hidup sehari-hari dan paham akan penggunaan aksara. Ilmu yang harus dicari itu adalah tentang dunia nyata atau sekala (Apara Vidya) dan ilmu tentang keberadaan dan kemahakuasaan Tuhan (Para Vidya) Mencari ilmu itu untuk bekal hidup agar bisa menata hidup sepanjang masa. Menimba ilmu bukan sekadar mengajarkan peserta didik mencari nafkah semata. Sebab, kebijakan struktural yang lebih menekankan pada pembangunan kesejahteraan material maka pendidikan pun ikut mengarah pada hal-hal lebih banyak pada yang materialistis.
Dalam konteks kekinian, masa brahmacari asrhama itu diimplementasikan ke dalam aktivitas pendidikan formal dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Namun, pendidikan formal itu saja belum cukup lantaran “kemasannya” cenderung dititikberatkan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sementara pendidikan yang ditujukan untuk pembangunan mental dan spiritual — kendati tetap diberikan porsi — dinilai belum memadai. “Kalau kita ingin mencetak insan Hindu yang berkualitas dalam arti yang sesungguhnya, segi penguasaan iptek dan spiritualitas itu harus diseimbangkan. Sebab, manusia pintar tanpa memiliki mental dan spiritualitas yang baik juga akan sia-sia dan tidak mampu membawa Bali ke kondisi yang lebih baik,”
Meningkatkan Ilmu Pengetahuan (Srada) Hindu melalui Pesraman
WACANA peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Hindu saat ini sedang menjadi perbincangan hangat. Sejumlah konsep pun ditawarkan. Khususnya dari mereka yang peduli serta mau berjuang aktif untuk kejayaan SDM Hindu di masa datang. Lantas, dari mana ayunan langkah harus dimulai untuk mewujudkan kepentingan itu?
komitmen peningkatan kualitas SDM Hindu harus dimulai sejak manusia Bali (Hindu-red) itu menginjak usia sekolah dasar. Ada baiknya seluruh SD di Bali yang mayoritas siswanya beragama Hindu mengembangkan konsep pesraman yang memberikan pendidikan agama Hindu dan budaya Bali secara lebih intensif.
Agar program itu tidak “bentrok” dengan pelaksanaan pendidikan formal, akan jauh lebih baik jika pesraman itu digelar hari Minggu atau pada hari-hari libur lainnya. Misalnya, pada liburan kenaikan kelas. “Sejumlah sekolah sudah melaksanakan program pesraman ini secara kontinu. Namun, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.
Pihak desa adat di sekitar lokasi sekolah itu harus memberikan dukungan nyata, agar program itu bisa jalan. Bentuk dukungan itu tidak hanya diwujudkan dalam bentuk materi atau dukungan dana semata. Namun, yang lebih penting adalah ikut menciptakan atmosfir yang kondusif bagi terlaksananya program itu.
“Dukungan yang paling sederhana, orangtua siswa rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membiayai anak-anaknya mengikuti program pesraman itu. Satu yang harus diingat, pengelola pesraman jangan sampai menggelincirkan program itu sebagai ajang profit oriented atau mengeruk keuntungan materi. Konsepnya, harus murni untuk yadnya.
Pesraman Tingkat Anak-Anak
Urgensi pesraman itu, harus difokuskan sebagai media pencerahan di bidang agama Hindu maupun pengenalan budaya Bali secara luas. Mengingat peserta didiknya adalah kelompok usia anak-anak, maka penyampaian materi-materi pelajaran harus “dikemas” dengan bahasa anak-anak sehingga mudah dipahami. “Tidak usah mereka dipaksa-paksa menghapal mantra-mantra yang njelimet. Untuk usia anak-anak seperti itu, cukuplah mereka hapal mantra Puja Trisandya dulu atau mantra-mantra sederhana lainnya. Namun, intisari dari mantra itu harus dijelaskan secara benar. Mereka juga perlu diberikan pemahaman tentang intisari dari kitab-kitab suci Hindu, sehingga bisa mereka jadikan pegangan dalam berpikir, berkata serta berbuat yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pesraman itu, peserta didik juga perlu dibekali dengan keterampilan-keterampilan yang berkaitan langsung dengan persiapan-persiapan upacara keagamaan. Misalnya, keterampilan membuat canang sari, ngulat tipat dan klakat serta kelengkapan upacara sederhana lainnya. Di bidang seni, mereka juga bisa diajari masanti, makidung, magambel serta menari. “Satu hal yang tidak boleh dilupakan, usia anak-anak itu merupakan masa bermain. Supaya mereka tidak jenuh selama mengikuti program pesraman, materi-materi pelajaran utama bisa diselingi dengan pengenalan permainan-permainan tradisional seperti magala-gala, meong-meongan dan sebagainya. Jadi, pengenalan permainan tradisional itu memiliki fungsi ganda. Di samping mengusir kejenuhan, juga untuk melestarikan permainan-permainan tradisional yang saat ini nyaris ditinggalkan karena perannya sudah digantikan oleh aneka permainan supramodern.
Pesraman Tingkat Remaja
Lantas, bagaimana konsep pesraman untuk manusia Hindu yang berusia pra-remaja/remaja atau bagi mereka yang sudah mengenyam pendidikan SLTP dan SMU? materi pelajaran tetap harus dititikberatkan pada bidang agama dan pengenalan budaya Bali. Namun, materinya jelas harus diperluas. Dia mencontohkan, kalau di pesraman anak-anak mereka hanya diajari ngulat tipat dan klakat, maka di pesraman lanjutan itu mereka sudah diajari membuat aci-aci upacara yang lebih kompleks seperti membuat aneka macam caru serta bebantenan yang lebih rumit. “Jelas harus ada perkembangan dari materi-materi yang diajarkan di pesraman untuk anak-anak SD. Jadi, tidak stagnan,” .

Manusia Bali tidak boleh gagap teknologi. Di samping mendapat pelajaran agama, mereka yang belajar di pesraman lanjutan juga perlu mendapat keterampilan lain yang bersentuhan dengan teknologi modern seperti komputer dan pengetahuan lainnya. Bekal ini, bertujuan untuk mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja. Dengan begitu, mereka tidak akan jadi pecundang dalam persaingan di tingkat global. “Karena dasar agama mereka sudah kuat, mereka tidak akan memanfaatkan kemajuan teknologi itu untuk kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Pesraman di Luar Negeri
Program peningkatan sumber daya manusia Hindu yang mulai gencar di langsungkan di Bali atau di tanah air dengan menerapkan sekolah minggu, mungkin tidaklah mudah di laksanakan di Luar Negeri. Adapun alasannya adalah selain karena jarak dari setiap keluarga orang Bali di rantau cukup jauh, juga karena kesempatan serta waktu yang dimiliki dari setiap keluarga untuk bertemu dengan sesama orang bali tidaklah banyak.
Kesempatan untuk berjumpa diantara keluarga hindu, seperti di Jerman, biasanya terjadi di saat acara kesenian tertentu atau di acara perayaan hari raya keagamaan seperti perayaan Kuningan. Ketika perayaan kuningan di Berlin yang berlangsung di bulan maret kemaren, dimana para ibu-ibu bali ataupun bapak-bapak bali, terlihat begitu riangnya bertemu handai tolan sesama dari bali atau dari satu kabupaten. ada yang mendiskusikan tentang lezatnya hidangan masakan bali ataupun harumnya kopi bali yang di hidangkan panitia, juga ada yang ngerumpi mojok kangen-kangenan serta tertawa ria dengan lelucon chiri khas bahasa bali. Melihat pemandangan seperti itu sungguh senang rasanya akan hasil kerja panitia yang telah berhasil mempersatukan umat sedharma di rantau di luar negeri.

Disamping keceriaan yang terlihat diatas, juga tampak beberapa orang yang duduk menyendiri. seperti beberapa pasangan hidup dari para ibu-ibu bali atau bapak-bapak bali. Sekilas terlihat, mereka yang memang asli Jerman sebenarnya ingin berbaur dengan krama bali lainnya, dan bahasa Indonesiapun sebenarnya sudah pula mereka pelajari di rumahnya, namun karena kendala bahasa bali yang dipakai dalam percakapan saat itu serta bahasa sansekerta yang banyak di lafalkan dalam setiap mantram , yang membuat mereka tidak bisa menyatu. Oleh karena itu, untuk mengurangi “Gap” perbedaan kesenjangan keceriaan antara Nyama Braya Bali dengan penduduk asli jerman yang menikah dengan orang Bali, mungkin di Perayaan Kuningan selanjutnya ada baiknya untuk dibuatkan “Pesraman” (kursus singkat).
Model Pesraman yang mirip kursus singkat yang di selenggarakan di sela-sela acara Kuningan, dimana mereka di bagi kedalam 2 kelompok yaitu anak-anak dan dewasa, dengan materi berbahasa jerman atau bahasa Inggris yang menjelaskan kepada mereka tentang makna dari hari raya Kuningan itu, makna canang sari, atau makna dari tari-tarian bali yang di pentaskan, makna dari kidung wargasari, dll. sehingga di akhir acara perayaan Kuningan, tidak saja para ibu-ibu bali ataupun bapk-bapak bali yang berbahagia karena bisa melaksanakan persembahyangan bersama manca puspa serta bahagia bertemu kangen dengan Nyama Braya Bali, tapi juga para pasangan hidupnyapun bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dan informasi tentang Kebudayaan Bali dan Ajaran-ajaran Agama Hindu.
I Made Agus Wardana, seorang seniman Bali yang saat ini berdomisili di Belgia dan Staff dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belgia, sudah memberikan contoh kepada kita semua tentang pengenalan kebudayaan Bali kepada masyarakat Belgia, melalui program “interaktif Gamelan and Dance” , yang patut kita tiru dalam setiap perayaan Kuningan yang di selenggarakan di Jerman. Nyama Braya Bali di Jerman dalam setiap merayakan upacara keagamaan tidak hanya terbatas melakukan Manca Puspa dengan mantram Bali, tapi Pandita yang memimpin jalannya upacara juga bisa menjelaskan kepada warga Jerman (khususnya yang memiliki pasangan hidup orang hindu), tentang makna dari Trisandya itu, Canang Sari, dll. Pun demikian setelah pementasan kesenian tari-tarian Bali ada penjelasan tentang maksud serta makna dari Tarian tersebut dalam konteks perayaan upacara keagamaan yang sedang berlangsung:
http://www.youtube.com/watch?v=LU539419JYs&feature=related

Semoga Srada Kehinduan dan kebudayaan bali kita semua walaupun jauh dari kampung tanah kelahiran kita, namun dengan konsep “Pesaraman” berbagi Ilmu Pengetahuan Keagamaan Hindu serta Kebudayaan Bali, di setiap waktu dan kesempatan yang kita miliki, menirukan apa yang dilakukan oleh Made Agus Wardana di Belgia, kita bisa ikut serta membantu mengajegkan Bali dan mengajegkan Hindu .
Akhir kata, semoga pikiran yang baik datang dari segala arah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar